Jumat, 28 April 2017

Ponan Sebagai Adat Kebudayaan Sumbawa

MASYARAKAT di lima desa wilayah Kecamatan Moyo Utara, yakni Poto atau Bekat, Malili, Lengas, Senampar, serta Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, setiap pekan kedua atau 3 Februari, berkumpul di suatu bukit bernama Ponan yang berada di tengah lahan persawahan yang disebut Orong Rea Desa Poto.  Lokasi ini bisa berjarak sekitar belasan kilometer dari pusat kota Sumbawa Besar. Ribuan orang datang ke tempat ini merayakan pesta Ponan, pada Minggu (10/02/2013) tepatnya pada minggu ketiga atau keempat masa tanam padi. Tradisi yang turun menurun ini merupakan simbolis dari wujud rasa syukur dan ajang memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hasil panen masyarakat setempat melimpah dan jauh dari kegagalan maupun hama.

Tradisi ini sejatinya sudah hidup dan mengakar di tengah masyarakat setempat sejak abad ke 15 Masehi. Berawal dari legenda Haji Batu yang memiliki nama Abdul Gafur.
Haji Batu atau Abdul Gafur yang dimakamkan di Bukit Ponan, seperti dikisahkan oleh tetua adat Ponan, diketahui sebagai pemuda asal Bekat yang dikarunia sebuah karomah dari sang Khalik Allah SWT.


Haji Batu yang menjadi inspirasi turun-temurun masyarakat setempat, ketika hidupnya meminta kepada warga agar jangan dimakamkan di tempat lain. Selain di bawah pohon pelam po’ (sejenis mangga ). “Kuber ku pang bawa puen pelam Po’ Nan “ atau dalam bahasa Indonesianya, bermakna kubur saya di bawah pohon mangga Po’ itu.
Karena pengaruh lafaz Po’ nan kemudian lebih dikenal disebut Ponan oleh masyarakat setempat. Kisah Haji Batu pun semakin dikenal oleh hampir semua warga di Kabupaten Sumbawa. Terutama setiap perayaan pesta syukuran Ponan di Orong Rea, Desa Poto, Kecamatan Moyo Utara.



Tradisi ini memiliki ciri khas terutama jenis kuliner yang sengaja disiapkan oleh kaum wanita. Tidak satupun kue yang dihidangkan berupa gorengan atau kue yang digoreng. Semua jenis kue yang dihidangkan seperti, petikal, buras, Range’maupun onde-onde tanpa gula. Semuanya harus dimasak dengan cara direbus dan dibakar untuk range’.  Sedangkan kue petikal dan buras harus dibungkus menggunakan daun kelapa dan daun pisang.
Penggunaan daun kelapa dan pisang ternyata bagi masyarakat setempat dianggap sebagai bentuk kehebatan nenek moyang mereka dalam menyikapi sesuatu. Pasalnya, dengan peringatan tradisi Ponan ini, masyarakat yang awalnya tidak menanam pisang dan kelapa akhirnya menanam kedua jenis tanaman ini. Hal ini dianggap sebagai bentuk pelestarian lingkungan.

Kenapa harus direbus ? Masyarakat setempat meyakini, dengan direbus akan menghasilkan uap. Uap hasil rebusan ini disimbolkan sebagai penguapan yang diharapkan akan menurunkan hujan untuk mengairi sawah petani. Ketua Lembaga Adat Ponan, Hatta Jamal, memaparkan, tradisi ini sejatinya diperingati sebanyak 2 hingga 3 kali dalam setahun. Namun dalam 6 tahun terakhir, lazimnya diperingati sekali dalam setahun di pekan kedua atau ketiga bulan Februari. Makna yang terkandung di dalam tradisi Ponan, yakni untuk memupuk tali silaturrahim antar masyarakat diiringi doa bersama untuk memohon kepada yang kuasa agar dalam berusaha ke depan selalu diberikan rejeki.



Suatu ketika beberapa tokoh adat setempat tidak merayakan tradisi Ponan. Ide ini ternyata berakibat pada menurunnya produksi tanaman padi petani setempat. Tanaman padi dirusak hama bahkan gagal panen. Boleh percaya atau tidak, tapi inilah keyakinan masyarakat kepada yang maha kuasa. (Ken)


0 komentar:

Posting Komentar